BAB
I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Peluang
sektor pariwisata cukup prospektif, karena selain sebagai salah satu penghasil
pertumbuhan ekonomi pariwisata sektor pariwisata diharapkan dapat berpeluang
untuk dapat menjadi pendorong pertumbuhan sektor pembangunan lainnya, seperti
sektor perkebunan, pertanian, perdagangan, perindustrian dan lain-lain. Salah
satu unsur dari sektor pertanian yang saat ini belum tergarap secara optimal
adalah agrowisata (agrotourism).
Potensi agrowisata tersebut ditujukan dari keindahan alam pertanian dan
produksi di sektor pertanian yang cukup berkembang. Agrowisata merupakan
rangkaian kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi pertanian sebagai obyek
wisata, baik potensi berupa pemandangan alam kawasan pertaniannya maupun kekhasan
dan keanekaragaman aktivitas produksi dan teknologi pertanian serta budaya
masyarakat petaninya. Kegiatan agrowisata bertujuan untuk memperluas wawasan
pengetahuan, pengalaman rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian yang
meliputi tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, perikanan dan peternakan.
Disamping itu yang termasuk dalam agrowisata adalah perhutanan dan sumber daya
pertanian.
Perpaduan antara keindahan alam, kehidupan
masyarakat pedesaan dan potensi pertanian, bilamana ditata secara baik dan
ditangani secara serius dapat mengembangkan daya tarik wisata bagi satu daerah
tujuan wisata. Agrowisata yang menghadirkan aneka tanaman dapat memberikan
manfaat dalam perbaikan kualitas iklim mikro, menjaga siklus hidrologi,
mengurangi erosi, melestarikan lingkungan, memberikan desain lingkungan yang
estetis bila dikelola dan dirancang dengan baik. Dengan berkembangnya agrowisata
di satu daerah tujuan wisata akan memberikan manfaat untuk peningkatan
pendapatan masyarakat dan pemerintah. Dengan kata lain bahwa fungsi pariwisata
dapat dilakukan dengan fungsi budi daya pertanian dan pemukiman pedesaan dan
sekaligus fungsi konservasi. Upaya pengembangan agrowisata pedesaan yang
memanfaatkan potensi pertanian, dan melibatkan masyarakat pedesaan, dapat
berfungsi sebagai pemberdayaan masyarakat selaras dengan pemberdayaan
masyarakat berbasis pariwisata (community
based tourism).
Pemberdayaan
masyarakat dimaksud adalah agrowisata yang dapat mengikutsertakan peran dan
aspirasi masyarakat pedesaan selaras dengan pendayagunaan potensi sumber daya
alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya. Persoalannya adalah bagaimana
masyarakat pedesaan dibina secara berkesinambungan, agar potensi-potensi yang
dimiliki daerah digali secara optimal, sehingga dapat memberikan hasil maksimal
bagi petani, masyarakat desa, pengusaha dan menjadi sumber pendapatan yang
dapat diandalkan. Sejalan dengan itu perlu adanya pola pembinaan agrowisata
agar para pelaku pariwisata dan pelaku pertanian secara sinergis dapat
merencanakan, menyusun, memprogramkan agrowisata yang bermanfaat bagi
masyarakat, PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) dan pemerintah.
1.2.Tujuan dan Manfaat
1.2.1.
Tujuan
Pola
pengembangan potensi agrowisata yang bertujuan untuk merealisasikan konsep
“Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun
Batujamus/Kerjoarum”.
1.2.2.
Manfaat
a. Sebagai bahan masukan kepada Direksi
PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) mengenai berbagai kegiatan perencanaan
dan pengembangan agrowisata di Kebun Batujamus/Kerjoarum Afdeling
Karanggadungan.
b. Sebagai upaya sinergitas
antara investasi serta laba perusahaan melalui pola pengembangan agrowisata
“Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun
Batujamus/Kerjoarum”.
1.2.3.
Sasaran
a. Terwujudnya feed back dan hubungan mutualisme agrowisata
“Kapoeng Karet Goenoeng Lawu” yang didukung oleh jajaran pemegang kebijakan dan
masyarakat.
b. Terwujudnya pengetahuan,
wawasan, sikap dan keterampilan karyawan serta masyarakat sekitar kebun melalui
pengelolaan agrowisata “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Batujamus/Kerjoarum”.
c. Tersusunnya tata cara
pengelolaan agrowisata yang didasarkan kepada manajemen pengelolaan yang tepat
BAB II. SISTEMATIKA
PENGEMBANGAN KONSEP DAN REALISASI KAMPOENG KARET GUNUNG LAWU KEBUN BATUJAMUS
2.1.
Konsep Pengembangan Agrowisata Kampoeng Karet
Pada
hakikatnya kehidupan masyarakat pedesaan masih memiliki sifat gotong royong
yang mendalam, yang membuktikan bahwa kehidupan selalu dibarengi dengan
berbagai upaya yang dapat menghasilkan upaya yang dapat menghasilkan bekal,
bagi kelangsungan hidup. perkebunan adalah salah satu usaha yang sejak lama dan
turun temurun, menjadi bagian mata pencaharian masyarakat di pedesaan,
perusahaan negara dan perusahaan swasta. Usaha perkebunan telah membentuk pola
hidup masyarakat tidak hanya sekedar mengolah kebun, tetapi apa yang mereka
kerjakan dengan tanpa disadari telah membentuk satu daya tarik bagi orang lain
yang melihatnya. Misalnya seorang penyadap yang melaksanakan sadapan di kebun dengan
mengaplikasikan teknik sadapan yang tertib telah memberikan nuansa tradisi
budaya masyarakat yang bagi orang lain menjadi daya tarik.
Bentangan
kebun karet yang menghampar luas, telah membentuk nuansa alam. Hijaunya daun
dari pohon-pohon karet di lereng bukit telah pula membentuk kehijauan pada lereng-lereng
bukit dan menambah keindahan. Ranumnya hasil buah-buahan pada kebun-kebun
masyarakat, telah mampu memikat wisatawan untuk dapat menikmati kelezatannya.
Semua itu adalah potensi produk pertanian yang mampu memadukan hasil pertanian
dan menarik orang untuk berkunjung. Inilah makna pertanian yang dapat membantu
pengayaan produk wisata dan menjadi bagian penting dalam diversifikasi produk
pariwisata. Perusahaan perkebunan, masyarakat dan hasil garapannya (produksi)
merupakan keterpaduan harmonis yang dapat mendorong perkembangan kepariwisataan
maupun menjadi asupan laba yang luar biasa.
2.2.
Pendekatan Pengembangan Agrowisata
Pendekatan
pengembangan agrowisata “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX
(Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum”, meliputi :
1. Pengembangan berbasis
konservasi, dimaksudkan pola pembinaan yang tetap mempertahankan keaslian
agro-ekosistem dengan mengupayakan kelestarian sumber daya alam lingkungan
hidup, sejarah, budaya, dan rekreasi. Sementara itu di sekitar Afdeling
Karanggadungan merupakan jalur paket wisata antara lain : Candi Sukuh, Candi
Cetho, Parang Ijo, Air Terjun Jumog, Goa Sari serta Kebun Teh Kemuning dan
Wisata Pemancingan Amanah.
2. Pengembangan berbasis
masyarakat, dimaksudkan pola pembinaan masyarakat yang menempatkan agrowisata
sebagai pemberdayaan karyawan serta masyarakat sekitar kebun untuk dapat
memperoleh nilai tambah baik dari sisi hasil pertanian maupun dari kunjungan
wisatawan dan efek ganda dari penyerapan hasil pertanian oleh usaha pariwisata
dan pengembang.
3. Penetapan wilayah/daerah agrowisata
“Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun
Batujamus/Kerjoarum” sebagai daerah/wilayah pembinaan.
4.
Inventarisasi kekuatan agrowisata.
5.
Peranan lembaga pariwisata dan lembaga pertanian dalam pembinaan agrowisata.
2.3. Perencanaan dan Pemberdayaan
Kawasan Agrowisata “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Batujamus/Kerjoarum”
2.3.1.
Nilai dan Manfaat Agrowisata di Kampoeng Karet Gunung Lawu
Dalam
kegiatan sehari-hari setiap manusia tidak terlepas dari kegiatan rutin baik di
tempat kerja, di rumah maupun di tempat-tempat lainnya. Kegiatan rutin
kadang-kadang menimbulkan kejenuhan, bilamana seseorang mengalami kejenuhan,
paling tidak berpengaruh terhadap kebugaran, kesegaran dan energi serta
stamina, oleh karena kejenuhan terhadap pekerjaan yang bersifat rutinitas perlu
diimbangi dengan kegiatan-kegiatan yang dapat berpengaruh kepada kesegaran
rohani dan jasmani atau kegiatan selingan yang mampu memberikan hiburan dan
melupakan sejenak kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan adalah
rekreasi. Rekreasi adalah kegiatan yang bersifat hiburan yang disertai berbagai
kegiatan baik yang berdampak kepada kesehatan jasmani maupun rohani. Melalui
kegiatan rekreasi diperoleh suatu kepuasan jiwa. Kegiatan rekreasi lebih banyak
dilakukan di luar (out door) oleh
karena kegiatan rekreasi di luar akan dapat memberikan dorongan kepada
kesehatan dan mendorong interaksi seseorang dengan alam, udara, suasana dan
lain-lain. Di tempat yang bernuansa pegunungan, persawahan, perkebunan dan
pertanian.
Berbagai
kegiatan rekreasi yang dilakukan orang-orang telah mendorong berbagai sarana
rekreasi baik yang bersifat alam, buatan manusia. Salah satu obyek dan daya
tarik wisata yang memiliki keterpaduan antara alam dan buatan manusia adalah
untuk menciptakan keharmonisan antara manusia dengan lingkungannya. Suasana
alami yang di latar belakangi kenyamanan lingkungan, adalah tempat yang banyak
diminati wisatawan. Aktivitas agrowisata diharapkan dapat menarik para
wisatawan untuk menikmati berbagai jenis hasil pertanian dan sekaligus
memberikan dorongan kepada pengenalan berbagai jenis hasil lainnya seperti di
Kampoeng Karet Gunung Lawu yang memadukan suasana perkebunan, perikanan,
peternakan dan holtikultura. Bilamana agrowisata dikelola secara profesional agrowisata
dapat memberikan manfaat cukup luas terhadap peningkatan konservasi lingkungan,
pengembangan dan pengelolaan agrowisata yang obyeknya benar-benar menyatu
dengan lingkungan alamnya harus memperhatikan kelestarian lingkungan, jangan
sampai pembuatan atau pengembangannya merugikan lingkungan. Nilai-nilai
konservasi yang ditekankan pada keseimbangan ekosistem dan peletakan kemampuan
daya dukung lingkungan dapat memberikan dorongan bagi setiap orang untuk
senantiasa memperhitungkan masa depan dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Daerah agrowisata
diharapkan dapat berguna bagi lingkungan.
2.3.2. Meningkatkan Nilai Estetika
dan Keindahan Alam
Lingkungan
alam yang indah, panorama yang memberikan kenyamanan, dan tertata rapi, akan
memberikan nuansa alami yang membuat terpesona orang yang melihatnya. Setiap
pengembangan agrowisata tentu memiliki nilai keserasian sendiri dan manfaat,
pertimbangan secara mendalam terhadap komponen pendukung seperti bangunan yang
dibuat dari beton, hendaknya dapat dijadikan pertimbangan untuk dapat dihindari
keberadaannya. Bangunan yang didesain sedemikian rupa, yang dapat menyatu
dengan alam, itulah yang diharapkan keberadaannya, oleh karena itu dalam
pengembangan agrowisata dibutuhkan perencanaan tata letak, arsitektur bangunan,
lanskap yang tepat. Hal tersebut terlah tercermin di Kampoeng Karet Gunung Lawu
yaitu tersedianya air bersih yang terus mengalir dan alami langsung dari mata
air pegunungan Lawu Kabupaten Karanganyar, ketinggian tempat yang proporsional
dan sangat nyaman untuk dihuni.
2.3.3. Kampoeng Karet Gunung Lawu
yang Memberikan Nilai Rekreasi
Wisata
tidak dapat dipisahkan keberadaannya sebagai sarana rekreasi. Kegiatan rekreasi
di tengah-tengah areal perkebunan yang luas akan memberikan kenikmatan
tersendiri. Sebagai tempat rekreasi, pengelola agrowisata dapat mengembangkan
fasilitas lainnya yang dapat menunjang kebutuhan para wisatawan seperti,
restaurant, panggung hiburan, dan yang paling penting adalah tempat penjualan
hasil pertanian seperti buah-buahan, bunga, makanan dan lain-lain. Dengan
menyediakan fasilitas penunjang, maka keberadaan agrowisata akan senantiasa
berorientasi kepada pelayanan terbaik bagi pengunjung, di samping itu sebagai
perpaduan kegiatan rekreasi dengan pemanfaatan hasil pertanian, maka dapat
dikembangkan nilai ekonomis agrowisata dengan cara menjual hasil pertanian
hortikultura kepada pengunjung dengan berbagai cara. Salah satunya adalah
mempersilahkan pengunjung untuk memetik buah atau jenis lainnya sendiri, yang
kemudian hasil petikannya ditimbang dan pengunjung dapat membelinya, cara
memetik buah atau jenis lainnya memiliki nilai rekreatif yang tinggi dan
sekaligus memiliki nilai pendidikan bagi para pengunjung. Potensi tersebut
dapat dilihat di Kampoeng Karet Gunung Lawu Afdeling Karanggadungan yaitu
terdapat taman buah naga, strawberi, pepaya, pisang dan lain-lain hingga
sayur-mayur antara lain sawi, cabe rawit, tomat, labu siam, kacang panjang,
buncis, terong dan timun. Sementara taman bunga diantaranya anggrek, mawar,
dahlia, kacapiring dan lain-lain.
2.3.4. Kampoeng Karet Gunung Lawu Meningkatkan Kegiatan Ilmiah dan Pengembangan
Ilmu Pengetahuan
Pengembangan
Kampoeng Karet Gunung Lawu, tidak saja bertujuan untuk mengembangkan nilai
rekreatif, akan tetapi lebih jauh mendorong seseorang atau kelompok menambah
ilmu pengetahuan yang bernilai ilmiah kekayaan flora dan fauna dengan berbagai
jenisnya, mengundang rasa ingin tahu para pelajar. Keilmuan dalam menambah ilmu
pengetahuan agrowisata dengan berbagai bentuknya dapat dijadikan sumber
informasi kekayaan alam dan ekosistem di dalamnya.
Peningkatan
sarana agrowisata tidak hanya yang bersifat memenuhi kebutuhan pengunjung akan
tetapi sebagai sarana pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Pengelola agrowisata,
perlu menyediakan fasilitas penelitian baik yang berbentuk kebun-kebun
percobaan, yang bersifat laboratorium alam, maupun laboratorium yang bersifat
tempat penelitian khusus dari berbagai jenis hortikultura dan jenis lainnya
seperti hasil hutan, peternakan, perikanan dan lain-lain. Kampoeng Karet Gunung
Lawu Afdeling Karanggadungan telah mengembangkan pembibitan buah naga, tanaman
kayu-kayuan serta srawberi secara berkesinambungan.
2.3.5. Kampoeng Karet Gunung Lawu
: Mengembangkan Ekonomi Masyarakat
Agrowisata
yang dibina secara baik dengan memperhatikan dan mendasarkan kepada kemampuan
masyarakat, akan memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat, dalam
bentuk pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, kesempatan berusaha. Beberapa
keuntungan ekonomi yang ada di Kampoeng Karet Gunung Lawu tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1) Peningkatan pendapatan
masyarakat yang dihasilkan melalui berbagai kegiatan penjualan dari hasil cocok
tanam seperti sayur-sayuran, buah-buahan, bunga, pemancingan ikan dan lain-lain
yang dijual secara langsung kepada pengunjung. Pendapatan langsung yang
dihasilkan dari pembelian langsung oleh wisatawan di lokasi agro, memberikan
dampak yang cukup luas terhadap kelangsungan dan keberadaan agrowisata. Sebagai
contoh agrowisata strawberry petik sendiri akan meningkatkan pendapatan petani
strawberry. Pengunjung/wisatawan dalam memetik strawberry, kadang-kadang tidak
terasa mendapatkan jumlah yang cukup banyak sehingga harus membayar cukup
besar. Jumlah wisatawan yang datang ke lokasi agrowisata strawberry cukup
banyak, terutama pada saat-saat liburan, dan hampir seluruh wisatawan yang
datang ke lokasi melakukan kegiatan memetik strawberry.
2)
Membuka kesempatan berusaha.
Keanekaragaman
jenis agrowisata telah mengembangkan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan
bercocok tanam masyarakat. Berbagai jenis komoditi bagi wisatawan disediakan
masyarakat pada lahan-lahan yang memiliki latar belakang keindahan, kesejukan,
kenyamanan sehingga para pengunjung dapat melakukan rekreasi di lokasi-lokasi
yang dipersiapkan untuk agrowisata. Dengan berkembangnya jumlah
wisatawan/pengunjung ke lokasi agrowisata akan memberikan pengaruh efek ganda
dalam mengembangkan usaha masyarakat baik dalam bentuk hasil komoditi pertanian,
perikanan (pemancingan) maupun peternakan. Efek ganda dengan tumbuh kembangnya agrowisata
dapat mendorong kesempatan berusaha masyarakat yang pada gilirannya dapat
mendongkrak faktor kemiskinan yang pada saat ini menjadi permasalahan bagi
bangsa Indonesia. Begitu pula dengan Kampoeng Karet Gunung Lawu, yang mana
lahan seluas 297 ha mengembangkan komoditas inti yaitu karet. Penggarapan lahan
tersebut telah menyerap setidaknya 378 tenaga dari 7 desa di kecamatan
Ngargoyoso.
3) Daya dukung promosi
Banyak
Negara menjadi terkenal oleh karena hasil komoditi pertanian yang menyebar luas
ke berbagai Negara dan dikonsumsi oleh masyarakat yang bisa menjadi referensi Kampoeng
Karet Gunung Lawu, seperti Thailand, New Zealand, Perancis, dan lain-lain.
Negara-negara tersebut terkenal disebabkan salah satunya melalui keanekaragaman
hasil komoditi pertanian. Thailand dikenal menghasilkan durian, burung perkutut
Bangkok, telah membawa promosi Negara tersebut untuk mendatangkan wisatawan.
New Zealand dengan buah kiwinya, menjadikan Negara tersebut dikenal sebagai
Negara buah kiwi dan burung kiwinya dilindungi. Indonesia sebagai Negara
agraris, telah banyak diperkenalkan melalui berbagai komoditi pertanian,
peternakan, perikanan dan lain-lain, seperti berbagai jenis bunga anggrek, umbi
cilembu, dan lain-lain. Dengan berkembangnya agrowisata di satu daerah paling tidak
daerah tersebut akan terdorong menjadi terkenal dan menjadi perhatian wisatawan
untuk berkunjung ke Negara tersebut. Dampak yang cukup menarik adalah adanya
keterkaitan antara agrowisata dengan promosi pariwisata.
5)
Meningkatkan produksi dan kualitas
Peningkatan
hasil produksi perkebunan merupakan acuan dasar bagi tumbuh berkembangnya
sektor pertanian dan sejenisnya. Pengelolaan agrowisata dengan baik di Kampoeng
Karet Gunung Lawu, setidaknya akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi
masing-masing komoditas yang diusahakan baik komoditas inti (karet) maupun
komoditas sampingan baik buah-buahan, sayuran dan pemancingan. Di samping itu
kualitas dari komoditas yang diusahakan yang dihasilkan oleh pengelola agrowisata,
sangat selektif dan menjadi perhatian pengelola. Segala sesuatu yang disajikan
harus memiliki kualitas, mengingat para wisatawan yang membeli hasil pertanian
dan sejenisnya akan mengkonsumsi dan membeli langsung, dengan demikian hanya
hasil pertanian yang berkualitas yang dapat menjadi daya tarik untuk dibeli dan
dikonsumsi.
2.4.
Pengelolaan Obyek dan Daya Tarik Agrowisata
Dalam
pengelolaan agrowisata, perlu mempertimbangkan secara seksama beberapa aspek
yang akan melatar belakangi keberhasilan pengelolaan agrowisata, seperti :
2.4.1.
Aspek Sumber Daya Manusia
Seumberdaya
manusia harus memiliki latar belakang pendidikan dibidangnya, harus pula
memiliki pengalaman yang luas dalam mengelola pekerjaannya. Tata cara
pengelolaan komoditas usaha pertanian yang disajikan sebagai komoditi daya
tarik wisata pengelolaannya berbeda dengan hasil produksi pertanian pada
umumnya. Faktor pengetahuan yang luas dalam bidang perkebunan, keterampilan
dalam bercocok tanam, sikap terhadap pekerjaan yang ditangani harus menjadi
bagian penting bagi SDM yang bekerja pada pengusahaan agro. Karyawan yang
memiliki skill spesifik baik di segi pengawasan (mandor) ataupun bercocok tanam
perlu mendapatkan tambahan pengetahuan tentang ilmu manajemen, kepemimpinan,
tanaman, tumbuhan untuk pengembangan informasi kepada pengunjung.
2.4.2.
Aspek keuangan
Pada
umumnya investasi dan permodalan usaha agrowisata, lebih dikaitkan dengan usaha
pertanian, peternakan, perikanan, holtikultura mengingat jenis usaha pertanian
tersebut lebih banyak dikelola dengan bantuan dana pemerintah sebagai kegiatan
yang berkaitan dengan peningkatan produksi hasil pertanian. Namun telah banyak
pula pengusaha agrowisata yang dikelola pihak swasta, yang secara mandiri
mengembangkan usaha dibidang agrowisata dengan investasi modal yang cukup besar.
Investasi modal dibidang agrowisata oleh pihak swasta/perorangan tersebut dalam
rangka mengembangkan usaha ekspor hasil produksi pertanian, perikanan,
peternakan, holtikultura, seperti bunga potong, disamping dapat dinikmati
sebagai keindahan, bertujuan pula untuk ekspor. Dengan demikian aspek keuangan
dalam pengelolaan agrowisata merupakan kekuatan dasar yang akan menunjang
terhadap kemajuan perusahaan.
2.4.3.
Aspek fasilitas, Sarana dan Prasarana
Hasil
komoditas berbagai usaha pertanian yang dimanfaatkan sebagai obyek kunjungan
bagi wisatawan, perlu ditunjang oleh tersedianya sarana dan prasarana seperti
jalan menuju ke tempat agro. Prasarana jalan, listrik, air bersih dan
telekomunikasi sangat menentukan perkembangan dan suksesnya agrowisata.
Sarana
yang dibutuhkan untuk menunjang pelayanan kepada wisatawan antara lain seperti
fasilitas umum (toilet), restaurant, ruang informasi, sarana transportasi di
dalam lokasi agrowisata atau sarana transportasi menuju ke lokasi areal
penjualan aneka hasil agrowisata.
2.4.4.
Aspek Pemilihan Lokasi Agrowisata Kampoeng Karet Gunung Lawu
Perpaduan
antara kekayaan komoditas pertanian dengan keindahan alam, dan kehidupan
masyarakat di Kecamatan Ngargoyoso pada dasarnya memberikan nuansa kenyamanan
dan kenangan, dan pada gilirannya dapat mendorong kekayaan serta potensi
agrowisata.
Untuk
menentukan lokasi agrowisata perlu adanya identifikasi terhadap wilayah
pertanian yang akan dijadikan kawasan agrowisata seperti Kampoeng Karet Gunung
Lawu dengan mempertimbangkan beberapa faktor dominan seperti prasarana dasar,
sarana, transportasi dan komunikasi dan yang terpenting adalah identifikasi
terhadap peran serta masyarakat lainnya yang dapat menjadi pendorong
berkembangnya agrowisata. Karakteristik pemilihan lokasi agrowisata Kapoeng
Karet Ngargoyoso Afdeling Karanggadungan yang perlu mendapatkan pertimbangan
antara lain pemilihan lokasi Kampoeng Karet Gunung Lawu di dataran tinggi.
Kampoeng
Karet Gunung Lawu memiliki karakteristik dataran tinggi yang berbukit-bukit
atau berupa wilayah pegunungan yang beruntai dan dilatarbelakangi alam
kehijauan yang indah, sejuk dan nyaman. Kampoeng Karet Gunung Lawu memiliki
suhu yang nyaman, tanah yang subur, pada karakteristik dataran tinggi dapat
ditanami berbagai komoditi seperti bunga, sayuran, perkebunan teh, tembakau,
kopi, karet dan lain-lain. Komoditas pertanian tersebut, akan banyak memikat
wisatawan untuk datang ke Kampoeng Karet Gunung Lawu. Selain itu Kampoeng Karet
Gunung Lawu dilewati jalur wisata Candi Sukuh dan Candi Cetho Kabupaten
Karanganyar.
2.5.
Model Pengembangan Kampoeng Karet Gunung
Lawu
2.5.1.
Pengembangan Lanskap
Pengembangan
lansekap Kampoeng Karet Gunung Lawu, harus berdasarkan kepada RT, RW yang
dilakukan di kota, Kabupaten propinsi atau produk perencanaan lainnya yang
mendukung dan menjadi dasar pengembangan wilayah. Konsep dasar pengembangan
lansekap meliputi :
a. Memanfaatkan dan melestarikan
kawasan lindung yang menjamin fungsi hidrologis serta sebagai pengendali
pelestarian alam yang meliputi kawasan lindung, kawasan hutan lindung setempat,
kawasan suatu alam, dan cagar budaya serta kawasan rawan bencana. Hal tersebut
dapat dilihat dengan pengembangan komoditas karet yang terhampar di Kecamatan
Ngargoyoso. Selain pemanfaatan komoditi perkebunan, kebun karet juga menjadi
daerah tangkapan air dan sumber mata air langsung untuk masyarakat sekitar
perkebunan.
b. Mengembangkan kawasan budidaya
perkebunan sebagai mata pencaharian pokok penduduk jangka panjang, sekaligus
pembentukan lansekap perkebunan yang menunjang keindahan dan keseimbangan alam,
pengalihan lahan-lahan non pertanian diarahkan pada lahan-lahan yang tidak atau
kurang produktif.
c. Mengembangkan kawasan-kawasan
wisata baru sesuai dengan potensi alam yang tersedia, selain mengembangkan
obyek wisata yang telah ada, perlu dikembangkan/ diversifikasi produk lainnya
yang menjadi alternatif daya tarik wisata seperti agrowisata di Kampoeng Karet
Gunung Lawu.
2.5.2.
Fasilitas Kampoeng Karet Gunung Lawu
Adapun
untuk mendapatkan fasilitas yang dapat memenuhi pelayanan pada Kampoeng Karet
Gunung Lawu dapat mempelajari karakteristik, meliputi karakteristik wisatawan dan
Pola aktivitas wisatawan di Kampoeng Karet Gunung Lawu. Dari segi jenis
wisatawan dibagi menjadi wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Pola
aktivitas wisatawan nusantara memiliki kegiatan :
-
Berwisata bersama keluarga
-
Berwisata secara rombongan
-
Berwisata dengan membawa makanan
sendiri/piknik
-
Berwisata memakai kendaraan sendiri.
-
Aktivitas pengunjung di agrowisata
Pola
aktivitas pengunjung di lokasi agrowisata, sangat bervariasi, dan memiliki
kekhususan tergantung dari jenis lokasi dan karakter dari agrowisata itu
sendiri. Aktivitas pengunjung dengan karakter agrowisata yang berada di
perbukitan dapat memadukan berbagai kegiatan, seperti :
- Menikmati pemandangan/fotografi sepanjang
kebun karet afdeling Karanggadungan PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero)
- Jalan-jalan, jogging, bersepeda
melalui track sepanjang lintasan kebun karet dan emplasemen serta kantor
Afdeling Karanggadungan.
- Bermain/rekreasi keluarga di Playground yang dikelilingi ladang sayur
dan taman buah strawberri
-
Memetik buah-buahan, sayur mayur,
menikmati keindahan taman bunga
-
Menanam bibit
-
Berkemah
-
Kegiatan outbound dengan fasilitas flying
fox
-
Mengamati lokasi flora yang terdiri dari
berbagai tanaman hias khas Gunung Lawu
-
Membeli hasil agrowisata dan produk
hilir PT. Perkebunan Nusantara IX
Gambaran
fasilitas yang dapat dikembangkan dalam lokasi agrowisata antara lain gerbang
pintu masuk, parkir di dalam lokasi, pos keamanan, tempat sampah, Masjid/musola
dan kamar mandi/toilet, Rumah makan/restaurant, Toko cinderamata dan produk
hilir PT. Perkebunan Nusantara IX (persero), Pusat informasi/TIC, jalan setapak,
panggung hiburan, bangku penonton, gardu pandang, jalan di dalam lokasi yang
diperuntukkan bagi transportasi mengelilingi lokasi, brosur/guide book, petunjuk
arah, lapang parkir di plaza, rumah Kaca, Shopping arcade/pertokoan, loket
karcis, pintu gerbang dan pintu masuk/keluar, pramuwisata dan kantor pengelola.
2.6. Unsur-unsur pengembangan Kampoeng
Karet Gunung Lawu
a.
Unsur pengembangan
Unsur
pengembangan agrowisata dalam hal ini adalah mengemas berbagai aktivitas
pertanian sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan daya tarik yang unik (Unique Selling Point) untuk disajikan
sebagai Kampoeng Karet Gunung Lawu. Secara garis besar ada 2 hal yang perlu
dikemas menjadi satu paket wisata agar dapat menarik wisatawan.
1)
Budidaya
Berbagai
budidaya buah-buahan seperti strawberi mulai dari pembibitan, pengolahan tanah,
penanaman dan pemeliharaan hingga panen dapat menjadi kegiatan-kegiatan yang
sangat menarik wisatawan apabila kita dapat mengemasnya menjadi satu kegiatan
yang unik atau langka. Pengertian unik atau langka disini adalah satu bentuk
kegiatan yang jarang atau bahkan sama sekali merupakan suatu pengalaman baru bagi
wisatawan. Wisatawan yang berkunjung datang dari berbagai negara, daerah yang
memiliki latar belakang yang berbeda pula.
2)
Penataan kawasan areal
Satu
kawasan perkebunan apabila akan dijadikan sebagai obyek agrowisata perlu ditata
sedemikian rupa sehingga akan menimbulkan daya tarik. Penataan kawasan tidak
hanya ditujukan untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung, namun juga
memperhatikan segi-segi kelestarian lingkungan dan kelestarian obyek. Penataan
kawasan dapat dilakukan dengan cara menerapkan sistem zonasi. Pembagian zonasi
ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian lingkungan/kebun dan menjaga
keselamatan pengunjung.
3)
Program pengembangan agrowisata
a)
Agrowisata perkebunan
Beberapa
daya tarik perkebunan sebagai obyek wisata adalah: Pertama, daya tarik historis
bagi wisatawan yang berkaitan dengan unsur nostalgia seperti wisatawan Belanda,
Inggris yang sejak dulu memiliki lahan perkebunan yang sangat luas di
Indonesia. Kedua, pemandangan alam yang indah dan berhawa sejuk. Ketiga, cara
tradisional dalam penanaman, pemeliharaan dan pengelolaan. Keempat, jenis
tanaman langka (agroforestry) untuk menciptakan agrowisata perkebunan ini,
unsur-unsur yang harus diperhatikan adalah:
-
Budi daya tanaman perkebunan
Budi
daya tanaman perkebunan umumnya mencakup kegiatan-kegiatan: pengelolaan tanah
dan persiapan tanam, pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan.
- Pengelolaan tanah, adalah kegiatan melakukan pembersihan lahan
dari berbagai macam rumput, pohon, alang-alang yang dapat mengganggu pertumbuhan
bibit, juga akan menjamin kebun akan bersih. Kebun yang bersih akan menjadi
daya tarik bagi wisatawan.
- Pembibitan, untuk menjamin tanaman tumbuh baik dan seragam
diperlukan bibit yang baik, cara pembibitan baik yang konvensional maupun
dengan cara teknologi maju, menarik bagi wisatawan untuk itu perlu adanya areal
pembibitan yang dapat dikunjungi oleh wisatawan dan dapat disajikan sebagai
daya tarik wisata.
- Pemeliharaan tanaman, pada beberapa jenis tanaman perkebunan
seperti karet, pemeliharaan cukup menarik terutama pada saat para penyadapan
melakukan penyadapan karet yang memiliki cara tersendiri, yang bisa menjadi
daya tarik bagi para fotografer/pemotret serta dapat didemonstrasikan sebagai
daya tarik bagi wisatawan.
- Pengambilan hasil (panen), pada perkebunan buah-buahan,
pemetikan buah yang sudah matang, menjadi kegiatan sendiri wisatawan. Memetik
buah merupakan kegiatan yang kadang-kadang lupa waktu, oleh karena keasyikan
wisatawan memetik buah, seperti strawberry petik sendiri sangat menarik dan
akan berdampak kepada perolehan hasil petik dan mempengaruhi pembayaran atas
buah strawberry yang dipetik.
b)
Penataan kebun
Penataan
kebun di Kampoeng Karet Gunung Lawu tidak hanya diperuntukkan bagi kenyamanan
pengunjung, tapi juga harus memperhatikan segi-segi kelestarian lingkungan
(konservasi lahan) dan menjaga kemungkinan tanaman rusak, oleh ulah pengunjung
yang tidak tanggung jawab. Untuk itu penataan kebun harus memperhatikan
penataan zonasi dan peletakan fasilitas yang dibutuhkan bagi pengunjung/
wisatawan, serta dapat dikembangkan pola kelompok jenis tanaman.
c)
Agrowisata tanaman bunga dan buah-buahan
Daya
tarik kebun buah-buahan sebagai obyek wisata adalah letak kebun buah dan bunga,
terletak pada lokasi yang indah dan memiliki teknik budi daya yang khas, cara
pemeliharaan buah yang tradisional dan lain-lain: unsur penting lainnya dalam
menentukan agrowisata tanaman buah-buahan adalah lokasi dan manajemen produksi.
-
Lokasi
Lokasi
kebun buah-buahan dan bunga seyogianya mudah dicapai, mempunyai akses yang
mudah. Oleh karena itu disamping diperlukan sarana jalan dan kendaraan yang
memadai, lokasi kedua buah-buahan juga, sebaiknya tidak terlalu jauh dari jalan
raya. Dalam penataan lokasi agrowisata, kesan desa agrowisata harus mulai
nampak sejak pengunjung mulai memasuki lokasi.
-
Manajemen produksi
Buah
dan bunga yang ada di Kampoeng Karet Gunung Lawu merupakan tanaman yang paling
menarik bagi agrowisata tanaman buah-buahan dan bunga, oleh karena itu hal yang
cukup penting adalah bagaimana cara mengatur agar tanaman dapat berbuah
sepanjang tahun, sehingga pengunjung dapat menikmati buah dan memetik bunga setiap
saat. Sementara itu untuk mengatur tanaman dapat berbuah setiap saat tersebut
memang diperlukan teknik budi daya yang khusus dan itupun masih dipengaruhi
oleh keadaan iklim. Keadaan serta topografi Kampoeng Karet Gunung Lawu sangat
baik dan cocok untuk pengembangan beberapa komoditas bunga dan buah. Wisata
kebun buah dan bunga di Kampoeng Karet Gunung Lawu pada prinsipnya untuk
mengajak pengunjung untuk melihat-lihat keasrian kebun menikmati buah,
menikmati keindahan bunga segar.
d).
Agrowisata peternakan
Potensi
ternak yang besar, disamping dapat menyuplai kebutuhan daging, juga dapat
dikembangkan sebagai obyek wisata. Penampilan agrowisata peternakan akan lebih
menarik bilamana dipadukan dengan jenis agrowisata lainnya seperti buah-buahan,
bunga dan lain-lain, disamping mengunjungi kebun buah dan bunga, wisatawan
dapat pula melihat proses pemerasan susu sapi atau cara pemeliharaan kelinci
dan lain-lain. Hal tersebut dapat terlihat dari pola pengembangan Kampoeng
Karet Gunung Lawu yang memiliki peternakan kambing, domba, ayam dan kelinci
yang dipadukan dengan taman buah dan sayur.
e)
Agrowisata perikanan
Jenis
kegiatan perikanan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi obyek agrowisata
ialah pemancingan yang dikembangkan di Kampoeng Karet Gunung Lawu. Pada saat
ini, kegiatan agrowisata perikanan lebih cenderung dalam bentuk kegiatan
memancing baik di kolam, sungai, danau dan laut. Kegiatan memancing diberbagai
tempat tersebut telah banyak menarik minat wisatawan, seperti kegiatan
memancing di laut tidak hanya berskala nasional, bahkan berskala internasional
dan bahkan pesertanya juga datang dari berbagai Negara. Dampak kedatangan
mereka ke satu lokasi festival mancing, berpengaruh terhadap tingkat hunian baik
di penginapan maupun villa.
f)
Pengelolaan hasil perkebunan (agroindustri)
Dalam
upaya pengembangan agroindustri, beberapa faktor dominan yang perlu
diperhatikan adalah penyediaan bahan baku, dan pemanfaatannya serta cara pemasarannya.
Agroindustri atau kegiatan pengelolaan hasil pertanian yang dimanfaatkan
sebagai obyek agrowisata lebih ditujukan pada upaya untuk memberikan
keterampilan penduduk dalam mengelola hasil pertaniannya menjadi bahan makanan
sebagai jasa boga/kuliner khas daerah setempat yang selanjutnya dapat dijual
sebagai cinderamata bagi wisatawan. Untuk produk hilir di PT. Perkebunan
Nusantara IX yang merupakan perusahaan yang menaungi Kampoeng Karet
Gunung Lawu memiliki produk hilir yang bisa dijual di cafe Kampoeng Karet
Gunung Lawu antara lain teh Kaligua, teh Semugih, Kopi Banaran, Gula 9 serta
sirup pala 9. Sementara itu bentuk menu yang disajikan sangat variatif dengan
kombinasi rasa teh serta kopi yang dimonifikasi dari segi cita rasanya. Produk
hilir yang ada langsung di Kampoeng Karet Gunung Lawu ialah komoditas
buah-buahan seperti straberi, pisang, buah naga. Sementara untuk komoditas
sayuran, Kampoeng Karet Gunung Lawu menyediakan beraneka macam buah seperti
sawi, kacang panjang, buncis, mentimun, terong, ubi rambat, singkong dan
lain-lain yang bisa dinikmati secara langsung melalui jajanan pasar yang
disediakan di cafe Kampoeng Karet Gunung Lawu.
2.7. Pengembangan Pola Kemitraan
Salah
satu tujuan pengembangan agrowisata Kampoeng Karet Gunung Lawu setelah
pencapaian laba yang maksimal antara lain untuk meningkatkan kualitas
masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar lokasi agrowisata atau daerah
tujuan wisata, karena manfaat pengembangan agrowisata dapat menjadi paket
wisata yang menarik terutama di wilayah kecamatan Ngargoyoso dan pengembangan
usaha di PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Batujamus/Kerjoarum.
Selama ini yang mampu memanfaatkan dampak secara ekonomis atau komersial dari
pengembangan obyek agrowisata masih terbatas pada pengusaha atau investor yang
mengelola obyek agrowisata dengan modal besar. Kesempatan kerja dan lapangan
kerja baru yang tercipta dengan adanya obyek agrowisata tidak selalu secara
otomatis dapat dimanfaatkan atau dinikmati secara langsung oleh masyarakat
setempat, hal tersebut dikarenakan masih terbatasnya permodalan dan
keterampilan masyarakat, sedangkan untuk memanfaatkan peluang tersebut
diperlukan permodalan dan keterampilan khusus, akibat lebih jauh kondisi ini
dapat mengakibatkan berbagai kesenjangan sosial ekonomi yang tajam serta
kecemburuan sosial, oleh karena itu untuk tidak terjadinya kesenjangan antara
masyarakat petani dengan pemilik modal, maka upaya mengembangkan kemitraan
adalah salah satu cara yang dapat ditempuh dan diharapkan dapat menyelaraskan
pola hidup warga setempat dengan tidak merubah sistem pertanian, namun
memberikan kesempatan kepada masyarakat berperan aktif dalam bentuk kemitraan.
Melalui kemitraan masyarakat akan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
baik dalam kebijakan program pengembangan agrowisata. Bentuk pola kemitraan,
antara lain seperti Pola kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) yang sudah
dikembangkan PTPN IX
BAB III. KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat
ditarik dari makalah ini antara lain :
-
Afdeling
Karanggadungan memiliki potensi agrowisata yang sangat besar sebagai media
pengembangan wahana Kampoeng Karet Gunung Lawu
-
Pengembangan
Agrowisata di Kampoeng Karet Gunung Lawu membutuhkan penanganan serta dukungan
yang serius dari semua stake holder
(karyawan dan Direksi PT. Perkebunan Nusantara IX) serta masyarakat yang ada di
sekitar Kebun Batujamus/Kerjoarum khususnya Afdeling Karanggadungan.
3.2. Saran
Dengan adanya kesimpulan
tersebut maka rekomendasi yang konstruktif dari penulis antara lain:
-
Perlu
segera dibentuk tim pengembangan untuk wahana agrowisata Kampoeng Karet Gunung
Lawu guna menangkap peluang yang baik, sehingga laba yang ada di PT. Perkebunan
Nusantara IX semakin meningkat
-
Perlu
adanya peningkatan dukungan dari semua pihak sehingga realisasi Kampoeng Karet
Gunung Lawu bisa terealisasi dengan baik melalui konsep yang matang.