Sabtu, 30 Januari 2016

Berenang dan bermain



Asyiknya Lomba Tangkap belut..............

 Lapangan Outbond dan bermain
 Area Parkir yang Luas
 Lomba Tangkap Ikan







Ruang Serba Guna

Fasilitas nyaman dan luas


GM Mart Kampoeng Karet

Lestarikan Alam Ku

Kampoengku..............

View Agro Wisata Kampoeng Karet dari Menara Pandang

Gazebo Kampoeng Karet

Gazebo untuk pertemuan, rapat, arisan maupun santai bersama keluarga di alam pegunungan yang sejuk dan nyaman dengan kapasitas 150 orang
Nikmati udara sejuk di Agro Wisata Kampoeng Karet ..........dengan nuansa keindahan alam yang akan memberikan semangat baru untuk aktivitas hidup lebih hidup.....

Rabu, 13 Januari 2016

EDUKASI



PENDAHULUAN



BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Peluang sektor pariwisata cukup prospektif, karena selain sebagai salah satu penghasil pertumbuhan ekonomi pariwisata sektor pariwisata diharapkan dapat berpeluang untuk dapat menjadi pendorong pertumbuhan sektor pembangunan lainnya, seperti sektor perkebunan, pertanian, perdagangan, perindustrian dan lain-lain. Salah satu unsur dari sektor pertanian yang saat ini belum tergarap secara optimal adalah agrowisata (agrotourism). Potensi agrowisata tersebut ditujukan dari keindahan alam pertanian dan produksi di sektor pertanian yang cukup berkembang. Agrowisata merupakan rangkaian kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi pertanian sebagai obyek wisata, baik potensi berupa pemandangan alam kawasan pertaniannya maupun kekhasan dan keanekaragaman aktivitas produksi dan teknologi pertanian serta budaya masyarakat petaninya. Kegiatan agrowisata bertujuan untuk memperluas wawasan pengetahuan, pengalaman rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian yang meliputi tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, perikanan dan peternakan. Disamping itu yang termasuk dalam agrowisata adalah perhutanan dan sumber daya pertanian.
 Perpaduan antara keindahan alam, kehidupan masyarakat pedesaan dan potensi pertanian, bilamana ditata secara baik dan ditangani secara serius dapat mengembangkan daya tarik wisata bagi satu daerah tujuan wisata. Agrowisata yang menghadirkan aneka tanaman dapat memberikan manfaat dalam perbaikan kualitas iklim mikro, menjaga siklus hidrologi, mengurangi erosi, melestarikan lingkungan, memberikan desain lingkungan yang estetis bila dikelola dan dirancang dengan baik. Dengan berkembangnya agrowisata di satu daerah tujuan wisata akan memberikan manfaat untuk peningkatan pendapatan masyarakat dan pemerintah. Dengan kata lain bahwa fungsi pariwisata dapat dilakukan dengan fungsi budi daya pertanian dan pemukiman pedesaan dan sekaligus fungsi konservasi. Upaya pengembangan agrowisata pedesaan yang memanfaatkan potensi pertanian, dan melibatkan masyarakat pedesaan, dapat berfungsi sebagai pemberdayaan masyarakat selaras dengan pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata (community based tourism).
Pemberdayaan masyarakat dimaksud adalah agrowisata yang dapat mengikutsertakan peran dan aspirasi masyarakat pedesaan selaras dengan pendayagunaan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya. Persoalannya adalah bagaimana masyarakat pedesaan dibina secara berkesinambungan, agar potensi-potensi yang dimiliki daerah digali secara optimal, sehingga dapat memberikan hasil maksimal bagi petani, masyarakat desa, pengusaha dan menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan. Sejalan dengan itu perlu adanya pola pembinaan agrowisata agar para pelaku pariwisata dan pelaku pertanian secara sinergis dapat merencanakan, menyusun, memprogramkan agrowisata yang bermanfaat bagi masyarakat, PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero)  dan pemerintah.

1.2.Tujuan dan Manfaat
1.2.1. Tujuan
Pola pengembangan potensi agrowisata yang bertujuan untuk merealisasikan konsep “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum”.

1.2.2. Manfaat
a. Sebagai bahan masukan kepada Direksi PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) mengenai berbagai kegiatan perencanaan dan pengembangan agrowisata di Kebun Batujamus/Kerjoarum Afdeling Karanggadungan.
b. Sebagai upaya sinergitas antara investasi serta laba perusahaan melalui pola pengembangan agrowisata “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum”.

1.2.3. Sasaran
a. Terwujudnya feed back dan hubungan mutualisme agrowisata “Kapoeng Karet Goenoeng Lawu” yang didukung oleh jajaran pemegang kebijakan dan masyarakat.
b. Terwujudnya pengetahuan, wawasan, sikap dan keterampilan karyawan serta masyarakat sekitar kebun melalui pengelolaan agrowisata “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Batujamus/Kerjoarum”.
c. Tersusunnya tata cara pengelolaan agrowisata yang didasarkan kepada manajemen pengelolaan yang tepat







BAB II. SISTEMATIKA PENGEMBANGAN KONSEP DAN REALISASI KAMPOENG KARET GUNUNG LAWU KEBUN BATUJAMUS

2.1. Konsep Pengembangan Agrowisata Kampoeng Karet
Pada hakikatnya kehidupan masyarakat pedesaan masih memiliki sifat gotong royong yang mendalam, yang membuktikan bahwa kehidupan selalu dibarengi dengan berbagai upaya yang dapat menghasilkan upaya yang dapat menghasilkan bekal, bagi kelangsungan hidup. perkebunan adalah salah satu usaha yang sejak lama dan turun temurun, menjadi bagian mata pencaharian masyarakat di pedesaan, perusahaan negara dan perusahaan swasta. Usaha perkebunan telah membentuk pola hidup masyarakat tidak hanya sekedar mengolah kebun, tetapi apa yang mereka kerjakan dengan tanpa disadari telah membentuk satu daya tarik bagi orang lain yang melihatnya. Misalnya seorang penyadap yang melaksanakan sadapan di kebun dengan mengaplikasikan teknik sadapan yang tertib telah memberikan nuansa tradisi budaya masyarakat yang bagi orang lain menjadi daya tarik.
Bentangan kebun karet yang menghampar luas, telah membentuk nuansa alam. Hijaunya daun dari pohon-pohon karet di lereng bukit telah pula membentuk kehijauan pada lereng-lereng bukit dan menambah keindahan. Ranumnya hasil buah-buahan pada kebun-kebun masyarakat, telah mampu memikat wisatawan untuk dapat menikmati kelezatannya. Semua itu adalah potensi produk pertanian yang mampu memadukan hasil pertanian dan menarik orang untuk berkunjung. Inilah makna pertanian yang dapat membantu pengayaan produk wisata dan menjadi bagian penting dalam diversifikasi produk pariwisata. Perusahaan perkebunan, masyarakat dan hasil garapannya (produksi) merupakan keterpaduan harmonis yang dapat mendorong perkembangan kepariwisataan maupun menjadi asupan laba yang luar biasa.

2.2. Pendekatan Pengembangan Agrowisata
Pendekatan pengembangan agrowisata “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum”, meliputi :
1. Pengembangan berbasis konservasi, dimaksudkan pola pembinaan yang tetap mempertahankan keaslian agro-ekosistem dengan mengupayakan kelestarian sumber daya alam lingkungan hidup, sejarah, budaya, dan rekreasi. Sementara itu di sekitar Afdeling Karanggadungan merupakan jalur paket wisata antara lain : Candi Sukuh, Candi Cetho, Parang Ijo, Air Terjun Jumog, Goa Sari serta Kebun Teh Kemuning dan Wisata Pemancingan Amanah.   
2. Pengembangan berbasis masyarakat, dimaksudkan pola pembinaan masyarakat yang menempatkan agrowisata sebagai pemberdayaan karyawan serta masyarakat sekitar kebun untuk dapat memperoleh nilai tambah baik dari sisi hasil pertanian maupun dari kunjungan wisatawan dan efek ganda dari penyerapan hasil pertanian oleh usaha pariwisata dan pengembang.
3. Penetapan wilayah/daerah agrowisata “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Batujamus/Kerjoarum” sebagai daerah/wilayah pembinaan.
4. Inventarisasi kekuatan agrowisata.
5. Peranan lembaga pariwisata dan lembaga pertanian dalam pembinaan agrowisata.

2.3. Perencanaan dan Pemberdayaan Kawasan Agrowisata “Kapoeng Karet Gunung Lawu PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Batujamus/Kerjoarum”

2.3.1. Nilai dan Manfaat Agrowisata di Kampoeng Karet Gunung Lawu
Dalam kegiatan sehari-hari setiap manusia tidak terlepas dari kegiatan rutin baik di tempat kerja, di rumah maupun di tempat-tempat lainnya. Kegiatan rutin kadang-kadang menimbulkan kejenuhan, bilamana seseorang mengalami kejenuhan, paling tidak berpengaruh terhadap kebugaran, kesegaran dan energi serta stamina, oleh karena kejenuhan terhadap pekerjaan yang bersifat rutinitas perlu diimbangi dengan kegiatan-kegiatan yang dapat berpengaruh kepada kesegaran rohani dan jasmani atau kegiatan selingan yang mampu memberikan hiburan dan melupakan sejenak kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan adalah rekreasi. Rekreasi adalah kegiatan yang bersifat hiburan yang disertai berbagai kegiatan baik yang berdampak kepada kesehatan jasmani maupun rohani. Melalui kegiatan rekreasi diperoleh suatu kepuasan jiwa. Kegiatan rekreasi lebih banyak dilakukan di luar (out door) oleh karena kegiatan rekreasi di luar akan dapat memberikan dorongan kepada kesehatan dan mendorong interaksi seseorang dengan alam, udara, suasana dan lain-lain. Di tempat yang bernuansa pegunungan, persawahan, perkebunan dan pertanian.
Berbagai kegiatan rekreasi yang dilakukan orang-orang telah mendorong berbagai sarana rekreasi baik yang bersifat alam, buatan manusia. Salah satu obyek dan daya tarik wisata yang memiliki keterpaduan antara alam dan buatan manusia adalah untuk menciptakan keharmonisan antara manusia dengan lingkungannya. Suasana alami yang di latar belakangi kenyamanan lingkungan, adalah tempat yang banyak diminati wisatawan. Aktivitas agrowisata diharapkan dapat menarik para wisatawan untuk menikmati berbagai jenis hasil pertanian dan sekaligus memberikan dorongan kepada pengenalan berbagai jenis hasil lainnya seperti di Kampoeng Karet Gunung Lawu yang memadukan suasana perkebunan, perikanan, peternakan dan holtikultura. Bilamana agrowisata dikelola secara profesional agrowisata dapat memberikan manfaat cukup luas terhadap peningkatan konservasi lingkungan, pengembangan dan pengelolaan agrowisata yang obyeknya benar-benar menyatu dengan lingkungan alamnya harus memperhatikan kelestarian lingkungan, jangan sampai pembuatan atau pengembangannya merugikan lingkungan. Nilai-nilai konservasi yang ditekankan pada keseimbangan ekosistem dan peletakan kemampuan daya dukung lingkungan dapat memberikan dorongan bagi setiap orang untuk senantiasa memperhitungkan masa depan dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Daerah agrowisata diharapkan dapat berguna bagi lingkungan.

2.3.2. Meningkatkan Nilai Estetika dan Keindahan Alam
Lingkungan alam yang indah, panorama yang memberikan kenyamanan, dan tertata rapi, akan memberikan nuansa alami yang membuat terpesona orang yang melihatnya. Setiap pengembangan agrowisata tentu memiliki nilai keserasian sendiri dan manfaat, pertimbangan secara mendalam terhadap komponen pendukung seperti bangunan yang dibuat dari beton, hendaknya dapat dijadikan pertimbangan untuk dapat dihindari keberadaannya. Bangunan yang didesain sedemikian rupa, yang dapat menyatu dengan alam, itulah yang diharapkan keberadaannya, oleh karena itu dalam pengembangan agrowisata dibutuhkan perencanaan tata letak, arsitektur bangunan, lanskap yang tepat. Hal tersebut terlah tercermin di Kampoeng Karet Gunung Lawu yaitu tersedianya air bersih yang terus mengalir dan alami langsung dari mata air pegunungan Lawu Kabupaten Karanganyar, ketinggian tempat yang proporsional dan sangat nyaman untuk dihuni.

2.3.3. Kampoeng Karet Gunung Lawu yang Memberikan Nilai Rekreasi
Wisata tidak dapat dipisahkan keberadaannya sebagai sarana rekreasi. Kegiatan rekreasi di tengah-tengah areal perkebunan yang luas akan memberikan kenikmatan tersendiri. Sebagai tempat rekreasi, pengelola agrowisata dapat mengembangkan fasilitas lainnya yang dapat menunjang kebutuhan para wisatawan seperti, restaurant, panggung hiburan, dan yang paling penting adalah tempat penjualan hasil pertanian seperti buah-buahan, bunga, makanan dan lain-lain. Dengan menyediakan fasilitas penunjang, maka keberadaan agrowisata akan senantiasa berorientasi kepada pelayanan terbaik bagi pengunjung, di samping itu sebagai perpaduan kegiatan rekreasi dengan pemanfaatan hasil pertanian, maka dapat dikembangkan nilai ekonomis agrowisata dengan cara menjual hasil pertanian hortikultura kepada pengunjung dengan berbagai cara. Salah satunya adalah mempersilahkan pengunjung untuk memetik buah atau jenis lainnya sendiri, yang kemudian hasil petikannya ditimbang dan pengunjung dapat membelinya, cara memetik buah atau jenis lainnya memiliki nilai rekreatif yang tinggi dan sekaligus memiliki nilai pendidikan bagi para pengunjung. Potensi tersebut dapat dilihat di Kampoeng Karet Gunung Lawu Afdeling Karanggadungan yaitu terdapat taman buah naga, strawberi, pepaya, pisang dan lain-lain hingga sayur-mayur antara lain sawi, cabe rawit, tomat, labu siam, kacang panjang, buncis, terong dan timun. Sementara taman bunga diantaranya anggrek, mawar, dahlia, kacapiring dan lain-lain.  

2.3.4. Kampoeng Karet Gunung Lawu Meningkatkan Kegiatan Ilmiah dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Pengembangan Kampoeng Karet Gunung Lawu, tidak saja bertujuan untuk mengembangkan nilai rekreatif, akan tetapi lebih jauh mendorong seseorang atau kelompok menambah ilmu pengetahuan yang bernilai ilmiah kekayaan flora dan fauna dengan berbagai jenisnya, mengundang rasa ingin tahu para pelajar. Keilmuan dalam menambah ilmu pengetahuan agrowisata dengan berbagai bentuknya dapat dijadikan sumber informasi kekayaan alam dan ekosistem di dalamnya.
Peningkatan sarana agrowisata tidak hanya yang bersifat memenuhi kebutuhan pengunjung akan tetapi sebagai sarana pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Pengelola agrowisata, perlu menyediakan fasilitas penelitian baik yang berbentuk kebun-kebun percobaan, yang bersifat laboratorium alam, maupun laboratorium yang bersifat tempat penelitian khusus dari berbagai jenis hortikultura dan jenis lainnya seperti hasil hutan, peternakan, perikanan dan lain-lain. Kampoeng Karet Gunung Lawu Afdeling Karanggadungan telah mengembangkan pembibitan buah naga, tanaman kayu-kayuan serta srawberi secara berkesinambungan.

2.3.5. Kampoeng Karet Gunung Lawu : Mengembangkan Ekonomi Masyarakat
Agrowisata yang dibina secara baik dengan memperhatikan dan mendasarkan kepada kemampuan masyarakat, akan memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat, dalam bentuk pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, kesempatan berusaha. Beberapa keuntungan ekonomi yang ada di Kampoeng Karet Gunung Lawu tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Peningkatan pendapatan masyarakat yang dihasilkan melalui berbagai kegiatan penjualan dari hasil cocok tanam seperti sayur-sayuran, buah-buahan, bunga, pemancingan ikan dan lain-lain yang dijual secara langsung kepada pengunjung. Pendapatan langsung yang dihasilkan dari pembelian langsung oleh wisatawan di lokasi agro, memberikan dampak yang cukup luas terhadap kelangsungan dan keberadaan agrowisata. Sebagai contoh agrowisata strawberry petik sendiri akan meningkatkan pendapatan petani strawberry. Pengunjung/wisatawan dalam memetik strawberry, kadang-kadang tidak terasa mendapatkan jumlah yang cukup banyak sehingga harus membayar cukup besar. Jumlah wisatawan yang datang ke lokasi agrowisata strawberry cukup banyak, terutama pada saat-saat liburan, dan hampir seluruh wisatawan yang datang ke lokasi melakukan kegiatan memetik strawberry.

2) Membuka kesempatan berusaha.
Keanekaragaman jenis agrowisata telah mengembangkan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan bercocok tanam masyarakat. Berbagai jenis komoditi bagi wisatawan disediakan masyarakat pada lahan-lahan yang memiliki latar belakang keindahan, kesejukan, kenyamanan sehingga para pengunjung dapat melakukan rekreasi di lokasi-lokasi yang dipersiapkan untuk agrowisata. Dengan berkembangnya jumlah wisatawan/pengunjung ke lokasi agrowisata akan memberikan pengaruh efek ganda dalam mengembangkan usaha masyarakat baik dalam bentuk hasil komoditi pertanian, perikanan (pemancingan) maupun peternakan. Efek ganda dengan tumbuh kembangnya agrowisata dapat mendorong kesempatan berusaha masyarakat yang pada gilirannya dapat mendongkrak faktor kemiskinan yang pada saat ini menjadi permasalahan bagi bangsa Indonesia. Begitu pula dengan Kampoeng Karet Gunung Lawu, yang mana lahan seluas 297 ha mengembangkan komoditas inti yaitu karet. Penggarapan lahan tersebut telah menyerap setidaknya 378 tenaga dari 7 desa di kecamatan Ngargoyoso.

3) Daya dukung promosi
Banyak Negara menjadi terkenal oleh karena hasil komoditi pertanian yang menyebar luas ke berbagai Negara dan dikonsumsi oleh masyarakat yang bisa menjadi referensi Kampoeng Karet Gunung Lawu, seperti Thailand, New Zealand, Perancis, dan lain-lain. Negara-negara tersebut terkenal disebabkan salah satunya melalui keanekaragaman hasil komoditi pertanian. Thailand dikenal menghasilkan durian, burung perkutut Bangkok, telah membawa promosi Negara tersebut untuk mendatangkan wisatawan. New Zealand dengan buah kiwinya, menjadikan Negara tersebut dikenal sebagai Negara buah kiwi dan burung kiwinya dilindungi. Indonesia sebagai Negara agraris, telah banyak diperkenalkan melalui berbagai komoditi pertanian, peternakan, perikanan dan lain-lain, seperti berbagai jenis bunga anggrek, umbi cilembu, dan lain-lain. Dengan berkembangnya agrowisata di satu daerah paling tidak daerah tersebut akan terdorong menjadi terkenal dan menjadi perhatian wisatawan untuk berkunjung ke Negara tersebut. Dampak yang cukup menarik adalah adanya keterkaitan antara agrowisata dengan promosi pariwisata.

5) Meningkatkan produksi dan kualitas
Peningkatan hasil produksi perkebunan merupakan acuan dasar bagi tumbuh berkembangnya sektor pertanian dan sejenisnya. Pengelolaan agrowisata dengan baik di Kampoeng Karet Gunung Lawu, setidaknya akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi masing-masing komoditas yang diusahakan baik komoditas inti (karet) maupun komoditas sampingan baik buah-buahan, sayuran dan pemancingan. Di samping itu kualitas dari komoditas yang diusahakan yang dihasilkan oleh pengelola agrowisata, sangat selektif dan menjadi perhatian pengelola. Segala sesuatu yang disajikan harus memiliki kualitas, mengingat para wisatawan yang membeli hasil pertanian dan sejenisnya akan mengkonsumsi dan membeli langsung, dengan demikian hanya hasil pertanian yang berkualitas yang dapat menjadi daya tarik untuk dibeli dan dikonsumsi.

2.4. Pengelolaan Obyek dan Daya Tarik Agrowisata
Dalam pengelolaan agrowisata, perlu mempertimbangkan secara seksama beberapa aspek yang akan melatar belakangi keberhasilan pengelolaan agrowisata, seperti :

2.4.1. Aspek Sumber Daya Manusia
Seumberdaya manusia harus memiliki latar belakang pendidikan dibidangnya, harus pula memiliki pengalaman yang luas dalam mengelola pekerjaannya. Tata cara pengelolaan komoditas usaha pertanian yang disajikan sebagai komoditi daya tarik wisata pengelolaannya berbeda dengan hasil produksi pertanian pada umumnya. Faktor pengetahuan yang luas dalam bidang perkebunan, keterampilan dalam bercocok tanam, sikap terhadap pekerjaan yang ditangani harus menjadi bagian penting bagi SDM yang bekerja pada pengusahaan agro. Karyawan yang memiliki skill spesifik baik di segi pengawasan (mandor) ataupun bercocok tanam perlu mendapatkan tambahan pengetahuan tentang ilmu manajemen, kepemimpinan, tanaman, tumbuhan untuk pengembangan informasi kepada pengunjung.
2.4.2. Aspek keuangan
Pada umumnya investasi dan permodalan usaha agrowisata, lebih dikaitkan dengan usaha pertanian, peternakan, perikanan, holtikultura mengingat jenis usaha pertanian tersebut lebih banyak dikelola dengan bantuan dana pemerintah sebagai kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan produksi hasil pertanian. Namun telah banyak pula pengusaha agrowisata yang dikelola pihak swasta, yang secara mandiri mengembangkan usaha dibidang agrowisata dengan investasi modal yang cukup besar. Investasi modal dibidang agrowisata oleh pihak swasta/perorangan tersebut dalam rangka mengembangkan usaha ekspor hasil produksi pertanian, perikanan, peternakan, holtikultura, seperti bunga potong, disamping dapat dinikmati sebagai keindahan, bertujuan pula untuk ekspor. Dengan demikian aspek keuangan dalam pengelolaan agrowisata merupakan kekuatan dasar yang akan menunjang terhadap kemajuan perusahaan.

2.4.3. Aspek fasilitas, Sarana dan Prasarana
Hasil komoditas berbagai usaha pertanian yang dimanfaatkan sebagai obyek kunjungan bagi wisatawan, perlu ditunjang oleh tersedianya sarana dan prasarana seperti jalan menuju ke tempat agro. Prasarana jalan, listrik, air bersih dan telekomunikasi sangat menentukan perkembangan dan suksesnya agrowisata.
Sarana yang dibutuhkan untuk menunjang pelayanan kepada wisatawan antara lain seperti fasilitas umum (toilet), restaurant, ruang informasi, sarana transportasi di dalam lokasi agrowisata atau sarana transportasi menuju ke lokasi areal penjualan aneka hasil agrowisata.

2.4.4. Aspek Pemilihan Lokasi Agrowisata Kampoeng Karet Gunung Lawu
Perpaduan antara kekayaan komoditas pertanian dengan keindahan alam, dan kehidupan masyarakat di Kecamatan Ngargoyoso pada dasarnya memberikan nuansa kenyamanan dan kenangan, dan pada gilirannya dapat mendorong kekayaan serta potensi agrowisata.
Untuk menentukan lokasi agrowisata perlu adanya identifikasi terhadap wilayah pertanian yang akan dijadikan kawasan agrowisata seperti Kampoeng Karet Gunung Lawu dengan mempertimbangkan beberapa faktor dominan seperti prasarana dasar, sarana, transportasi dan komunikasi dan yang terpenting adalah identifikasi terhadap peran serta masyarakat lainnya yang dapat menjadi pendorong berkembangnya agrowisata. Karakteristik pemilihan lokasi agrowisata Kapoeng Karet Ngargoyoso Afdeling Karanggadungan yang perlu mendapatkan pertimbangan antara lain pemilihan lokasi Kampoeng Karet Gunung Lawu di dataran tinggi.
Kampoeng Karet Gunung Lawu memiliki karakteristik dataran tinggi yang berbukit-bukit atau berupa wilayah pegunungan yang beruntai dan dilatarbelakangi alam kehijauan yang indah, sejuk dan nyaman. Kampoeng Karet Gunung Lawu memiliki suhu yang nyaman, tanah yang subur, pada karakteristik dataran tinggi dapat ditanami berbagai komoditi seperti bunga, sayuran, perkebunan teh, tembakau, kopi, karet dan lain-lain. Komoditas pertanian tersebut, akan banyak memikat wisatawan untuk datang ke Kampoeng Karet Gunung Lawu. Selain itu Kampoeng Karet Gunung Lawu dilewati jalur wisata Candi Sukuh dan Candi Cetho Kabupaten Karanganyar.

2.5.  Model Pengembangan Kampoeng Karet Gunung Lawu
2.5.1.  Pengembangan Lanskap
Pengembangan lansekap Kampoeng Karet Gunung Lawu, harus berdasarkan kepada RT, RW yang dilakukan di kota, Kabupaten propinsi atau produk perencanaan lainnya yang mendukung dan menjadi dasar pengembangan wilayah. Konsep dasar pengembangan lansekap meliputi :
a. Memanfaatkan dan melestarikan kawasan lindung yang menjamin fungsi hidrologis serta sebagai pengendali pelestarian alam yang meliputi kawasan lindung, kawasan hutan lindung setempat, kawasan suatu alam, dan cagar budaya serta kawasan rawan bencana. Hal tersebut dapat dilihat dengan pengembangan komoditas karet yang terhampar di Kecamatan Ngargoyoso. Selain pemanfaatan komoditi perkebunan, kebun karet juga menjadi daerah tangkapan air dan sumber mata air langsung untuk masyarakat sekitar perkebunan.  
b. Mengembangkan kawasan budidaya perkebunan sebagai mata pencaharian pokok penduduk jangka panjang, sekaligus pembentukan lansekap perkebunan yang menunjang keindahan dan keseimbangan alam, pengalihan lahan-lahan non pertanian diarahkan pada lahan-lahan yang tidak atau kurang produktif.
c. Mengembangkan kawasan-kawasan wisata baru sesuai dengan potensi alam yang tersedia, selain mengembangkan obyek wisata yang telah ada, perlu dikembangkan/ diversifikasi produk lainnya yang menjadi alternatif daya tarik wisata seperti agrowisata di Kampoeng Karet Gunung Lawu.


2.5.2. Fasilitas Kampoeng Karet Gunung Lawu
Adapun untuk mendapatkan fasilitas yang dapat memenuhi pelayanan pada Kampoeng Karet Gunung Lawu dapat mempelajari karakteristik, meliputi karakteristik wisatawan dan Pola aktivitas wisatawan di Kampoeng Karet Gunung Lawu. Dari segi jenis wisatawan dibagi menjadi wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Pola aktivitas wisatawan nusantara memiliki kegiatan :
-  Berwisata bersama keluarga
- Berwisata secara rombongan
-  Berwisata dengan membawa makanan sendiri/piknik
-  Berwisata memakai kendaraan sendiri.
- Aktivitas pengunjung di agrowisata
Pola aktivitas pengunjung di lokasi agrowisata, sangat bervariasi, dan memiliki kekhususan tergantung dari jenis lokasi dan karakter dari agrowisata itu sendiri. Aktivitas pengunjung dengan karakter agrowisata yang berada di perbukitan dapat memadukan berbagai kegiatan, seperti :
-  Menikmati pemandangan/fotografi sepanjang kebun karet afdeling Karanggadungan PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero)
- Jalan-jalan, jogging, bersepeda melalui track sepanjang lintasan kebun karet dan emplasemen serta kantor Afdeling Karanggadungan.
- Bermain/rekreasi keluarga di Playground yang dikelilingi ladang sayur dan taman buah strawberri
-  Memetik buah-buahan, sayur mayur, menikmati keindahan taman bunga
-  Menanam bibit
-  Berkemah
-  Kegiatan outbound dengan fasilitas flying fox
-  Mengamati lokasi flora yang terdiri dari berbagai tanaman hias khas Gunung Lawu
-  Membeli hasil agrowisata dan produk hilir PT. Perkebunan Nusantara IX 

Gambaran fasilitas yang dapat dikembangkan dalam lokasi agrowisata antara lain gerbang pintu masuk, parkir di dalam lokasi, pos keamanan, tempat sampah, Masjid/musola dan kamar mandi/toilet, Rumah makan/restaurant, Toko cinderamata dan produk hilir PT. Perkebunan Nusantara IX (persero), Pusat informasi/TIC, jalan setapak, panggung hiburan, bangku penonton, gardu pandang, jalan di dalam lokasi yang diperuntukkan bagi transportasi mengelilingi lokasi, brosur/guide book, petunjuk arah, lapang parkir di plaza, rumah Kaca, Shopping arcade/pertokoan, loket karcis, pintu gerbang dan pintu masuk/keluar, pramuwisata dan  kantor pengelola.

2.6. Unsur-unsur pengembangan Kampoeng Karet Gunung Lawu
a. Unsur pengembangan
Unsur pengembangan agrowisata dalam hal ini adalah mengemas berbagai aktivitas pertanian sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan daya tarik yang unik (Unique Selling Point) untuk disajikan sebagai Kampoeng Karet Gunung Lawu. Secara garis besar ada 2 hal yang perlu dikemas menjadi satu paket wisata agar dapat menarik wisatawan.

1) Budidaya
Berbagai budidaya buah-buahan seperti strawberi mulai dari pembibitan, pengolahan tanah, penanaman dan pemeliharaan hingga panen dapat menjadi kegiatan-kegiatan yang sangat menarik wisatawan apabila kita dapat mengemasnya menjadi satu kegiatan yang unik atau langka. Pengertian unik atau langka disini adalah satu bentuk kegiatan yang jarang atau bahkan sama sekali merupakan suatu pengalaman baru bagi wisatawan. Wisatawan yang berkunjung datang dari berbagai negara, daerah yang memiliki latar belakang yang berbeda pula.

2) Penataan kawasan areal
Satu kawasan perkebunan apabila akan dijadikan sebagai obyek agrowisata perlu ditata sedemikian rupa sehingga akan menimbulkan daya tarik. Penataan kawasan tidak hanya ditujukan untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung, namun juga memperhatikan segi-segi kelestarian lingkungan dan kelestarian obyek. Penataan kawasan dapat dilakukan dengan cara menerapkan sistem zonasi. Pembagian zonasi ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian lingkungan/kebun dan menjaga keselamatan pengunjung.

3) Program pengembangan agrowisata
a) Agrowisata perkebunan
Beberapa daya tarik perkebunan sebagai obyek wisata adalah: Pertama, daya tarik historis bagi wisatawan yang berkaitan dengan unsur nostalgia seperti wisatawan Belanda, Inggris yang sejak dulu memiliki lahan perkebunan yang sangat luas di Indonesia. Kedua, pemandangan alam yang indah dan berhawa sejuk. Ketiga, cara tradisional dalam penanaman, pemeliharaan dan pengelolaan. Keempat, jenis tanaman langka (agroforestry) untuk menciptakan agrowisata perkebunan ini, unsur-unsur yang harus diperhatikan adalah:
-           Budi daya tanaman perkebunan
Budi daya tanaman perkebunan umumnya mencakup kegiatan-kegiatan: pengelolaan tanah dan persiapan tanam, pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan.
-      Pengelolaan tanah, adalah kegiatan melakukan pembersihan lahan dari berbagai macam rumput, pohon, alang-alang yang dapat mengganggu pertumbuhan bibit, juga akan menjamin kebun akan bersih. Kebun yang bersih akan menjadi daya tarik bagi wisatawan.
-      Pembibitan, untuk menjamin tanaman tumbuh baik dan seragam diperlukan bibit yang baik, cara pembibitan baik yang konvensional maupun dengan cara teknologi maju, menarik bagi wisatawan untuk itu perlu adanya areal pembibitan yang dapat dikunjungi oleh wisatawan dan dapat disajikan sebagai daya tarik wisata.
-      Pemeliharaan tanaman, pada beberapa jenis tanaman perkebunan seperti karet, pemeliharaan cukup menarik terutama pada saat para penyadapan melakukan penyadapan karet yang memiliki cara tersendiri, yang bisa menjadi daya tarik bagi para fotografer/pemotret serta dapat didemonstrasikan sebagai daya tarik bagi wisatawan.
-      Pengambilan hasil (panen), pada perkebunan buah-buahan, pemetikan buah yang sudah matang, menjadi kegiatan sendiri wisatawan. Memetik buah merupakan kegiatan yang kadang-kadang lupa waktu, oleh karena keasyikan wisatawan memetik buah, seperti strawberry petik sendiri sangat menarik dan akan berdampak kepada perolehan hasil petik dan mempengaruhi pembayaran atas buah strawberry yang dipetik.

b) Penataan kebun
Penataan kebun di Kampoeng Karet Gunung Lawu tidak hanya diperuntukkan bagi kenyamanan pengunjung, tapi juga harus memperhatikan segi-segi kelestarian lingkungan (konservasi lahan) dan menjaga kemungkinan tanaman rusak, oleh ulah pengunjung yang tidak tanggung jawab. Untuk itu penataan kebun harus memperhatikan penataan zonasi dan peletakan fasilitas yang dibutuhkan bagi pengunjung/ wisatawan, serta dapat dikembangkan pola kelompok jenis tanaman.
c) Agrowisata tanaman bunga dan buah-buahan
Daya tarik kebun buah-buahan sebagai obyek wisata adalah letak kebun buah dan bunga, terletak pada lokasi yang indah dan memiliki teknik budi daya yang khas, cara pemeliharaan buah yang tradisional dan lain-lain: unsur penting lainnya dalam menentukan agrowisata tanaman buah-buahan adalah lokasi dan manajemen produksi.
-          Lokasi
Lokasi kebun buah-buahan dan bunga seyogianya mudah dicapai, mempunyai akses yang mudah. Oleh karena itu disamping diperlukan sarana jalan dan kendaraan yang memadai, lokasi kedua buah-buahan juga, sebaiknya tidak terlalu jauh dari jalan raya. Dalam penataan lokasi agrowisata, kesan desa agrowisata harus mulai nampak sejak pengunjung mulai memasuki lokasi.

-           Manajemen produksi
Buah dan bunga yang ada di Kampoeng Karet Gunung Lawu merupakan tanaman yang paling menarik bagi agrowisata tanaman buah-buahan dan bunga, oleh karena itu hal yang cukup penting adalah bagaimana cara mengatur agar tanaman dapat berbuah sepanjang tahun, sehingga pengunjung dapat menikmati buah dan memetik bunga setiap saat. Sementara itu untuk mengatur tanaman dapat berbuah setiap saat tersebut memang diperlukan teknik budi daya yang khusus dan itupun masih dipengaruhi oleh keadaan iklim. Keadaan serta topografi Kampoeng Karet Gunung Lawu sangat baik dan cocok untuk pengembangan beberapa komoditas bunga dan buah. Wisata kebun buah dan bunga di Kampoeng Karet Gunung Lawu pada prinsipnya untuk mengajak pengunjung untuk melihat-lihat keasrian kebun menikmati buah, menikmati keindahan bunga segar.

d). Agrowisata peternakan
Potensi ternak yang besar, disamping dapat menyuplai kebutuhan daging, juga dapat dikembangkan sebagai obyek wisata. Penampilan agrowisata peternakan akan lebih menarik bilamana dipadukan dengan jenis agrowisata lainnya seperti buah-buahan, bunga dan lain-lain, disamping mengunjungi kebun buah dan bunga, wisatawan dapat pula melihat proses pemerasan susu sapi atau cara pemeliharaan kelinci dan lain-lain. Hal tersebut dapat terlihat dari pola pengembangan Kampoeng Karet Gunung Lawu yang memiliki peternakan kambing, domba, ayam dan kelinci yang dipadukan dengan taman buah dan sayur.

e) Agrowisata perikanan
Jenis kegiatan perikanan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi obyek agrowisata ialah pemancingan yang dikembangkan di Kampoeng Karet Gunung Lawu. Pada saat ini, kegiatan agrowisata perikanan lebih cenderung dalam bentuk kegiatan memancing baik di kolam, sungai, danau dan laut. Kegiatan memancing diberbagai tempat tersebut telah banyak menarik minat wisatawan, seperti kegiatan memancing di laut tidak hanya berskala nasional, bahkan berskala internasional dan bahkan pesertanya juga datang dari berbagai Negara. Dampak kedatangan mereka ke satu lokasi festival mancing, berpengaruh terhadap tingkat hunian baik di penginapan maupun villa.

f) Pengelolaan hasil perkebunan (agroindustri)  
Dalam upaya pengembangan agroindustri, beberapa faktor dominan yang perlu diperhatikan adalah penyediaan bahan baku, dan pemanfaatannya serta cara pemasarannya. Agroindustri atau kegiatan pengelolaan hasil pertanian yang dimanfaatkan sebagai obyek agrowisata lebih ditujukan pada upaya untuk memberikan keterampilan penduduk dalam mengelola hasil pertaniannya menjadi bahan makanan sebagai jasa boga/kuliner khas daerah setempat yang selanjutnya dapat dijual sebagai cinderamata bagi wisatawan. Untuk produk hilir di PT. Perkebunan Nusantara IX  yang merupakan perusahaan yang menaungi Kampoeng Karet Gunung Lawu memiliki produk hilir yang bisa dijual di cafe Kampoeng Karet Gunung Lawu antara lain teh Kaligua, teh Semugih, Kopi Banaran, Gula 9 serta sirup pala 9. Sementara itu bentuk menu yang disajikan sangat variatif dengan kombinasi rasa teh serta kopi yang dimonifikasi dari segi cita rasanya. Produk hilir yang ada langsung di Kampoeng Karet Gunung Lawu ialah komoditas buah-buahan seperti straberi, pisang, buah naga. Sementara untuk komoditas sayuran, Kampoeng Karet Gunung Lawu menyediakan beraneka macam buah seperti sawi, kacang panjang, buncis, mentimun, terong, ubi rambat, singkong dan lain-lain yang bisa dinikmati secara langsung melalui jajanan pasar yang disediakan di cafe Kampoeng Karet Gunung Lawu.

2.7.  Pengembangan Pola Kemitraan
Salah satu tujuan pengembangan agrowisata Kampoeng Karet Gunung Lawu setelah pencapaian laba yang maksimal antara lain untuk meningkatkan kualitas masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar lokasi agrowisata atau daerah tujuan wisata, karena manfaat pengembangan agrowisata dapat menjadi paket wisata yang menarik terutama di wilayah kecamatan Ngargoyoso dan pengembangan usaha di PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Batujamus/Kerjoarum. Selama ini yang mampu memanfaatkan dampak secara ekonomis atau komersial dari pengembangan obyek agrowisata masih terbatas pada pengusaha atau investor yang mengelola obyek agrowisata dengan modal besar. Kesempatan kerja dan lapangan kerja baru yang tercipta dengan adanya obyek agrowisata tidak selalu secara otomatis dapat dimanfaatkan atau dinikmati secara langsung oleh masyarakat setempat, hal tersebut dikarenakan masih terbatasnya permodalan dan keterampilan masyarakat, sedangkan untuk memanfaatkan peluang tersebut diperlukan permodalan dan keterampilan khusus, akibat lebih jauh kondisi ini dapat mengakibatkan berbagai kesenjangan sosial ekonomi yang tajam serta kecemburuan sosial, oleh karena itu untuk tidak terjadinya kesenjangan antara masyarakat petani dengan pemilik modal, maka upaya mengembangkan kemitraan adalah salah satu cara yang dapat ditempuh dan diharapkan dapat menyelaraskan pola hidup warga setempat dengan tidak merubah sistem pertanian, namun memberikan kesempatan kepada masyarakat berperan aktif dalam bentuk kemitraan. Melalui kemitraan masyarakat akan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan baik dalam kebijakan program pengembangan agrowisata. Bentuk pola kemitraan, antara lain seperti Pola kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) yang sudah dikembangkan PTPN IX 


















BAB III. KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
            Kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini antara lain :
-          Afdeling Karanggadungan memiliki potensi agrowisata yang sangat besar sebagai media pengembangan wahana Kampoeng Karet Gunung Lawu
-          Pengembangan Agrowisata di Kampoeng Karet Gunung Lawu membutuhkan penanganan serta dukungan yang serius dari semua stake holder (karyawan dan Direksi PT. Perkebunan Nusantara IX) serta masyarakat yang ada di sekitar Kebun Batujamus/Kerjoarum khususnya Afdeling Karanggadungan.

3.2. Saran
            Dengan adanya kesimpulan tersebut maka rekomendasi yang konstruktif dari penulis antara lain:
-          Perlu segera dibentuk tim pengembangan untuk wahana agrowisata Kampoeng Karet Gunung Lawu guna menangkap peluang yang baik, sehingga laba yang ada di PT. Perkebunan Nusantara IX semakin meningkat
-          Perlu adanya peningkatan dukungan dari semua pihak sehingga realisasi Kampoeng Karet Gunung Lawu bisa terealisasi dengan baik melalui konsep yang matang.